Kompas Minggu, 28 September 2008 Namun, dari struktur film ini, terlihat Riri masih terlalu berhasrat memasukkan sebanyak mungkin unsur menarik dari novel ke dalam film. Hasilnya, semua substansi yang ia sebut itu justru tampil serba tanggung.
Oleh: DAHONO FITRIANTO
Jika ada film Indonesia yang paling ditunggu tahun ini, itu pasti Laskar Pelangi garapan sutradara Riri Riza. Dengan publikasi gencar seputar pembuatan film itu sejak awal tahun, orang dibuat penasaran, seperti apa film hasil adaptasi novel laris itu.
Para penggemar novel karya Andrea Hirata itu penasaran bagaimana Riri Riza menerjemahkan kesan dan imajinasi yang mereka dapat dari buku tersebut ke dalam bahasa visual. Bagi yang belum membaca novel berjudul sama, film ini diharapkan mampu menampilkan spirit novel yang disebut- sebut sangat inspiratif itu.
Maka, dibukalah film produksi Miles Films ini dengan adegan Ikal dewasa (diperankan Lukman Sardi) menumpang bus, kembali ke kampung halamannya di Desa Gantong, Pulau Belitung. Sambil menerawang ke luar jendela bus, suara lamunan Ikal membimbing penonton memahami latar belakang sejarah sosial pulau yang pernah kaya karena timah itu.
Seusai adegan pembuka itu, lamunan Ikal pun kembali pada saat ia pertama kali masuk SD. Film pun menampilkan gambar kilas balik Belitung era 1974, saat PN Timah masih aktif beroperasi, para karyawan berseragam biru lalu lalang dengan sepeda, dan orangtua mengantar anak-anak mereka ke sekolah.
Tokoh-tokoh
Di bagian awal, film ini terlihat memusatkan perhatian pada sosok Ikal, yang pada novel sebenarnya personifikasi Andrea Hirata sendiri. Ikal kecil (diperankan aktor lokal Zulfanny) adalah anak pegawai rendahan PN Timah yang tak mampu sekolah di SD Timah, jadi mendaftar ke SD Muhammadiyah.
Lalu bermunculan tokoh lain. Ada Lintang (Ferdian), anak nelayan miskin yang harus berjalan jauh dari kawasan pesisir ke sekolah terdekat di Gantong. Lalu ada Bu Muslimah (Cut Mini), perempuan muda yang teguh bercita-cita sebagai guru. Kemudian ada Pak Harfan (Ikranagara), Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Gantong, yang setia mempertahankan sekolah yang hampir ambruk.
Hari itu adalah hari penentuan sekolah tersebut. Jika tak terkumpul 10 siswa baru, sekolah berdinding kayu reyot itu harus ditutup. Untunglah pada saat-saat terakhir muncul Harun (Jeffry Yanuar), anak tunagrahita yang menjadi siswa kesepuluh, penyelamat sekolah itu.
Dari sisi teknis, film ini digarap dengan rapi. Sinematografer Yadi Sugandhi menampilkan gambar-gambar indah dan terkonsep dengan baik. Dari sisi gagasan, film ini menggarap berbagai permasalahan nyata di masyarakat dengan cara yang ringan dan cukup bisa dinikmati.
Sampai di sini, narasi Ikal dewasa masih menyertai untuk menjelaskan betapa istimewanya 10 anak tersebut. Sempat muncul dugaan, film ini akan berkonsentrasi pada kisah-kisah keajaiban masa kecil anak-anak tersebut. Ternyata tidak.
Tokoh-tokoh baru terus bermunculan ketika setting waktu meloncat ke 1979, saat anak- anak itu duduk di kelas lima. Dari 10 anak itu, muncul Borek (Febriansyah), yang terobsesi dengan badan besar ala Samson, dan Mahar (Verrys Yamarno), anak SD yang sudah kenal jazz, bertingkah seniman.
Ada pula Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo), orang kaya lulusan sekolah Muhammadiyah di Jawa yang bersimpati pada keteguhan hati Pak Harfan mempertahankan SD-nya. Lalu ada Pak Bakrie (Teuku Rifnu Wikana), yang bimbang menentukan pilihan apakah tetap mengajar di SD Muhammadiyah atau pindah ke tempat lain yang gajinya lebih baik. Terakhir, ada Pak Mahmud (Tora Sudiro), guru SD Timah yang naksir dan bersimpati kepada Bu Muslimah.
Kisah-kisah
Itu baru dari segi tokoh. Dari sisi cerita, selain ada kisah kegigihan Harfan dan Muslimah mempertahankan sekolah mereka dan mengajar anak-anak itu, juga ada cerita Ikal yang jatuh cinta kepada A Ling, anak pemilik toko kelontong. Lalu kisah Lintang yang tak bisa meneruskan sekolah karena ayahnya hilang di laut dan harus mengurus adik-adiknya. Dan, terakhir, ada Flo (Marcella El Jolla Kondo), anak orang kaya yang ngotot pindah dari SD Timah ke SD Muhammadiyah.
Dalam film yang hanya berdurasi 125 menit, semua itu akhirnya mendapat porsi tidak memadai. Karakter tiap tokoh muncul permukaannya saja, setiap cerita tidak tampil dengan latar belakang dan konteks utuh, dan semua pesan akhirnya disampaikan secara verbal.
Tokoh Ikal, yang seharusnya menjadi sentral kisah tentang keajaiban mimpi dan cita-cita ini, justru makin tersisih. Pada akhir film diceritakan ia berhasil mewujudkan mimpinya pergi ke Paris dengan diterima kuliah di Universitas Sorbonne. Satu-satunya adegan dalam film yang menggambarkan mimpi itu adalah saat ia menunjukkan kaleng pemberian A Ling yang bergambar Menara Eiffel kepada Lintang.
Sebaliknya, perjuangan dan kegigihan Lintang belajar di tengah keterbatasan dan rintangan justru tidak muncul utuh. Yang ditampilkan berulang-ulang hanya perjalanan menempuh hutan dan dihadang buaya. Padahal, jika ingin mengangkat ironi dunia pendidikan kita, marjinalisasi masyarakat miskin, dan keajaiban mimpi, harusnya kisah Lintang ini yang diangkat sebagai plot utama.
Subplot mengenai Flo (termasuk perjalanan ke pulau untuk bertemu dukun), selain tak jelas latar belakang dan maknanya, juga tak berkaitan langsung dengan plot dan spirit utama film ini. Jika adegan itu dibuang, tak akan berpengaruh apa pun terhadap film secara keseluruhan.
Dalam catatan produksi resmi film Laskar Pelangi, Riri Riza mengakui tak mungkin menceritakan semua isi novel dalam durasi sebuah film. ”Menurut saya, yang perlu dipertahankan adalah substansinya: keajaiban mimpi, marjinalisasi masyarakat, dan ironi dunia pendidikan kita,” kata Riri.
Hasrat Bertutur "Laskar Pelangi"
Categories Review
Warna-warni Persahabatan Anak-anak Belitong
Kisah film 'Laskar Pelangi' yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata tak hanya soal pentingnya pendidikan. Warna-warni pershabatan 10 bocah Belitong dalam film ini juga cukup menarik dan bisa membuat penonton tertawa dan menangis.
Film ini dibuka dengan adegan ketika hari pertama Ikal (Zulfanny) berangkat ke sekolah, namun ia harus menggunakan sepatu perempuan karena tak mampu beli sepatu sekolah. Sayang sepatu perempuan yang dipakai Ikal kurang mewakili desain sepatu tahun 70an.
Di hari pertama Ikal sekolah juga jadi hari yang penting untuk kelanjutan pendidikan di SD Muhammdyah di desa Gentong, Belitong. Pada hari itu Ibu Muslimah (CUt Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) harus berhasil mengumpulkan 10 murid supaya sekolah tersebut tidak ditutup.
Satu demi satu murid pun mulai terkumpul. Sayang hingga waktu yang ditentukan, kedua guru itu hanya berhasil mengumpulkan 9 murid. Hingga akhirnya tibalah Harun (Jeffry Yanuar) dengan ditemani ibunya. Ia pun berlari melewati padang rumput menuju ke sekolah yang bangunannya hampir roboh itu untuk menjadi penyelamat masa depan kesembilan murid yang sudah gelisah. Sepuluh murid pun sudah terkumpul, mereka pun mendapat julukan Laskar Pelangi oleh Ibu Muslimah.
Tantangan demi tantangan harus dihadapi oleh Ibu Muslimah, Pak Harfan dan Laskar Pelangi untuk bisa terus sekolah. Namun berkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki para Laskar Pelangi berhasil mendorong semangat sekolah mereka.
Kisah dalam 'Laskar Pelangi' yang mengangkat pentingnya pendidikan dibalut dalam cerita warna-warninya persahabatan di antara 10 murid SD Muhammadiyah itu. Masing-masing murid tersebut memiliki keunikan tersendiri.
Warna-warni film 'Laskar Pelangi' juga terlihat dengan adanya berbagai hal yang bisa dilihat dalam layar lebar produksi Miles Film ini. Ada kisah cinta monyet, perjuangan orangtua dan indahnya persahabatan.
Menonton 'Laskar Pelangi' bisa membuat kita tertawa sekaligus menangis. Apalagi akting para pendatang baru yang memerankan Laskar Pelangi tak mengecewakan, mereka sangat natural. Hal itu bisa jadi karena mereka sebelumnya sudah menjalani latihan akting selama tiga bulan.
Dalam film garapan Riri Riza ini ada satu penambahan tokoh yang tidak ada dalam novel. Tokoh tersebut adalah Pak Mahmud yang diperankan Tora Sudiro. Menurut Riri penambahan karakter itu untuk memperkuat penyampaian pesan fim ini.
Setting yang dibuat oleh Eros Eflin selaku penata artistik untuk film 'Laskar Pelangi' cukup menggambarkan nuansa tahun 70an. Ditambah dengan syuting yang dilakukan di Belitong, sehingga benar-benar tertangkap suasana lokalnya. Secara keseluruhan film 'Laskar Pelangi' patut mendapat acungan jempol.
Detik.Com
Categories Review
Laskar Pelangi The Movie (Review @ IndonesiaSelebriti)

Film Laskar Pelangi merupakan sebuah film bergenre drama yang menjadi salah satu film terbaik pada tahun 2008 ini. Selain itu film ini merupakan calon film yang mengungguli film liburan lebaran yang rilisnya pada 25 September 2008 diikuti oleh 4 film Indonesia lainnya.
Laskar Pelangi menjadi salah satu tontonan alternative yang membuat Indonesia menangis mengingat dunia pendidikan di Indonesia yang sangat jauh dari standar pendidikan dunia.
Film garapan sutradara Riri Riza ini merupakan film yang sangat menyentuh. Selain penuh dengan rasa miris dan menyebabkan air mata, film ini juga mampu memberikan sebuah guyonan yang biasa tapi mampu membangkitkan rasa tawa yang segar.
Selain itu, dari sisi akting. Film yang banyak dibintangi oleh bintang-bintang terkenal ini mampu menyuguhkan kualitas akting. Film ini dapat dikatakan berat, karena para bintang harus mampu menyuguhkan kulture dari budaya Belitung dengan bahasanya yang melayu.
Selain itu, untuk pemeran cilik yang terdiri dari 11 orang itu mampu memukau penontonnya dengan gaya-gaya kepolosan mereka. Ditambah dengan kehadiran seseorang yang memiliki keterbatasan, menjadikan film ini menjadi yang terbaik pada tahun.
Tak hanya itu, film produksi Miles Production, merupakan tontonan yang sangat menyentuh penuh dengan pesan moral yang sangat dalam. Istimewanya lagi film ini dapat dinikmati oleh segala kalangan.
Categories Review
Laskar Pelangi The Movie, Review @ filmpendek.org
Sebuah adaptasi sinema dari novel fenomenal LASKAR PELANGI karya Andrea Hirata.
Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.
Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.
5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.
Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kehilangan sosok yang mereka cintai. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?
Film ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran, dan kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.
Jenis Film : Drama
Produser : Mira Lesmana
Produksi : Miles Films & Mizan Production
Pemain : Cut Mini, Ikranagara, Tora Sudiro, Slamet Rahardjo, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka
Sutradara : Riri Riza
Penulis : Salman Aristo, Riri Riza, Mira Lesmana
Categories Review
Search
Categories
- A Kiong (2)
- Andrea Hirata (8)
- Behind The Scenes (1)
- Belitung Tour (3)
- Berita Media (14)
- Cast (9)
- Community (1)
- Crew (2)
- Cut Mini (3)
- DVD (1)
- Edensor (1)
- Film (10)
- Film Maker (3)
- Full Movie (1)
- Garasi (2)
- Gita Gutawa (2)
- Gugun And The Blues Bug (2)
- Ikal (2)
- Ikranegara (1)
- Ipang (2)
- Kick Andy (1)
- Kucai (2)
- Lintang (1)
- Lyric (8)
- Mahar (4)
- Mathias Muchus (1)
- Meng Float (2)
- Mira Lesmana (2)
- Movie (1)
- Netral (1)
- Nidji (10)
- Novel (1)
- Podcast (1)
- Poster (1)
- Press Release (1)
- Review (4)
- Riri Riza (1)
- Sahara (2)
- Sherina (3)
- Sinopsis (2)
- Slamet Rahardjo (2)
- Soundtrack (10)
- Still Photos (6)
- Syahdan (2)
- Tokoh (1)
- Tora Sudiro (2)
- Trailer (1)
- Trapani (2)
- TV (1)
- Veris (2)
- Video (6)
- Wisata Belitung (3)
-
Recent Posts
Laskar Pelangi The Comment
The Songs Inspired By Laskar Pelangi
On Flickr
