Andrea Hirata Takjub Saksikan Film 'LASKAR PELANGI'

Penulis buku Andrea Hirata mengaku takjub setelah menyaksikan film LASKAR PELANGI arahan sutradara Riri Riza, yang merupakan adaptasi dari buku karangannya dengan judul yang sama.

"Terus terang, bagi saya LASKAR PELANGI adalah sebuah memoar, sebuah kisah masa kecil dalam film. Ini yang sulit saya gambarkan bagaimana kebahagiaan saya," kata Andrea Hirata dalam acara konferensi pers peluncuran film LASKAR PELANGI, di Jakarta, Senin (22/9).

Film LASKAR PELANGI berkisah tentang perjuangan dua guru SD Muhammadiyah dan sepuluh muridnya untuk bertahan mendapatkan pendidikan. Film itu diputar mulai 25 September di bioskop-bioskop di Indonesia.

Andrea mengatakan, ketakjuban dirinya semakin bertambah ketika menyadari bahwa pesan yang ingin disampaikannya dalam film itu ternyata dapat diterima penonton.

Pesan tersebut adalah tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat sekitar Belitong, masyarakat yang terpinggirkan dan miskin.

"Teknik yang dipakai dalam pembuatan ini sangat tinggi, tapi Riri sebagai sutradara tidak melupakan pesan-pesan moral dalam film ini," kata pria berambut ikal itu.

Film LASKAR PELANGI merupakan produksi ke-9 Miles Films dan Mizan Production. Dalam film ini Mira Lesmana menjadi produser dan penulisan naskahnya ditulis oleh Salman Aristo yang sebelumnya menulis naskah film AYAT AYAT CINTA, BROWNIES, dan JOMBLO.

Cerita LASKAR PELANGI berlatar belakang kehidupan di Pulau Belitong pada pertengahan tahun 1970-an. Novel LASKAR PELANGI merupakan karya best seller yang berisi kisah anak-anak Belitong yang inspiratif, penuh semangat, dan kemauan untuk bekerja keras.

Film ini dibintangi 10 anak asli Belitong yang berperan sebagai anggota Laskar Pelangi serta artis dan aktor Indonesia, di antaranya Cut Mini, Ikranagara, Tora Sudiro, Slamet Raharjo, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Lukman Sardi, Alex Komang dan Jajang C Noer.

Seluruh pengambilan gambar dalam film ini dilakukan di Belitong dan menggunakan Bahasa Belitong. Proses pengambilan gambarnya memerlukan waktu satu tahun lamanya dan pada draft ke-11 Andrea baru menerima naskah lengkapnya untuk segera difilmkan.

"Dua tahun lamanya saya jungkir balik menghadapi penggemar yang tidak ingin Laskar Pelangi difilmkan, tapi saya yakin hasil kerja Riri dan kawan-kawan akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa, dan hal itu menjadi kenyataan," demikian kata Andrea.

sumber: kapanlagi

2 comments:

riska said...

moga-moga berlanjut sampe novel-novel selanjutnya tetralogi laskar pelangi.. ^^

fadhilatul muharram said...

salut... ada satu lagi seseorang yang bisa dengan takjub mewujudkan mimpinya.