September mendatang film yang diadaptasi dari novel laris 'Laskar Pelangi' milik Andrea Hirata segera bisa dinikmati di bioskop tanah air. Tak hanya diputar di bioskop, film itu juga akan diputar di layar tancap.
"Launchingnya nggak cuma di Jakarta. Rencananya juga diputar di layar tancap tapi cuma di daerah -daerah yang nggak punya bioskop," ucap produser film 'Laskar Pelangi' Mira Lesmana saat dihubungi Detikhot melalui telepon selularnya, Kamis (28/8/2008).
Saat ini film yang digarap di Bangka Belitong itu sudah memasuki tahap akhir proses produksi. "Sekarang lagi tahap mixing suara dan segera dibawa ke Bangkok untuk tahap akhir" tambahnya.
Untuk urusan lagu tema film itu, Mira Lesmana pun mempercayakan kepada grup band yang sedang naik daun Nidji. Selain Nidji album soundtrack 'Songs Inspired by Laskar Pelangi' juga diramaikan oleh Netral, Gita Gutawa, Sherina, Ipang, Garasi, Float, Gugun and Bluesbugs dan lain-lain.
Film itu disutradarai Riri Riza dan skenarionya dibuat oleh Salman Aristo. Informasi dari sang produser, film ini akan segera dirilis 25 September 2008.
detikhot
'Laskar Pelangi' Segera Tayang di Layar Tancap
Categories Film
Ada Tokoh Baru Di Laskar Pelangi

Pengadaptasian novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ke layar lebar oleh Miles Film, kini tengah memasuki tahapan produksi. Dan sudah dipastikan oleh Mira Lesmana selaku produser film ini bahwa, akan ada perbedaan di antara novel dan filmnya. Dengan kata lain, ada hal-hal yang tidak terdapat di novel namun ada di film, dan ada hal yang tidak terdapat di film, namun ada di dalam novel.
Salah satu perbedaannya adalah adanya penambahan tokoh-tokoh yang tidak ada di novel. “Sebenarnya supaya lebih membantu, karena kalau dalam penulisan skenario itu ada hukum dramanya, dan kita membutuhkan tokoh-tokoh yang bisa mengangkat dramanya,” jelas Mira Lesmana yang ditemui dalam acara press briefieng film Laskar Pelangi beberapa waktu lalu di Jakarta.
Ditambahkan oleh wanita kelahiran Jakarta 8 Agustus 1964 ini, bahwa ia tidak hanya asal memunculkan satu tokoh baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita yang ada di novel. “Penambahan tokoh di sini untuk lebih membangkitkan nilai dramanya, dan itu saya coba menampilkan satu tokoh yang merupakan guru dari SDN, sebagai pembanding dengan guru Muhammaddiyah, dan itu akan lebih memperkuat drama,” tutur adik dari musisi Indra Lesmana ini.
Mira memberikan satu contoh lain. Ketika ia berbincang-bincang dengan Bu Mus (seorang guru yang diceritakan di dalam novel), Mira mendapatkan fakta menarik bahwa ternyata SD Muhammaddiyah tersebut bisa tetap berdiri karena bantuan dari seorang dermawan. ”Namanya Pak Zulkarnaen. Diceritakan oleh Bu Mus dia adalah orang yang sering memberikan beras atau apapun, yang di dalam film akan diperankan oleh Slamet Rahardjo, dan ini juga tidak ada di novel,” tambah wanita yang aktif di dalam gerakan MFI ini.
Namun dengan adanya perbedaan di antara novel dan film, Mira mengharapkan setelah orang menonton filmnya, akan tergerak untuk juga membaca novelnya.
cineplex21
Categories Film
Nostalgia Slamet Rahardjo di Belitung

Ada banyak alasan orang tatkala menerima peran dalam sebuah proyek film. Soal eksistensi, uang, cerita yang menarik, atau kerja bareng dengan sineas besar itu jawaban yang standar. Bagaimana dengan nostalgia masa lalu? Aha, boleh jadi ini jarang terjadi. Simak saja dengan yang dialami aktor senior Slamet Rahardjo misalnya ketika menerima peran dalam Laskar Pelangi.
”Saya pernah tinggal dan menamatkan SMA saya di Tanjung Pandan (Pulau Belitung),” demikian tutur Slamet saat dijumpai beberapa waktu lalu. ”Bahasa-bahasa Belitung saya sangat kuasai karena saya bergaul.”
Saat ditawari peran dalam film yang settingnya di pulau Belitung ini dia langsung terkenang akan masa remajanya di sana. ”Saya bukan sebagai anak pejabat, justru sebagai komandan Pramuka,” cerita aktor yang dibesarkan di Teater Populer ini.
Sejatinya, kakak kandung Eros Djarot ini sedang merendah. Ayahnya justru sedang menjabat sebagai komandan pangkalan Angkatan Udara di sana di zaman Dwikora, pada era 1960-an. Zaman Gestapu 1965, papar Slamet, sekolahnya masih di kota Yogyakarta. ”Tapi saya tak pernah masuk sekolah, lebih banyak di jalan ikut aksi-aksi. Maka bapak mengambil kebijakan, anaknya diambil disuruh sekolah di Tanjung Pandan,” sodornya kembali.
Perihal kondisi sekolah yang memprihatinkan macam yang digambarkan Andrea Hirata dalam novelnya rupanya Slamet paham betul. ”Saya tahu sekolah-sekolah seperti itu. Saya bersama Eros suka bikin pertunjukan yang melibatkan anak-anak Pramuka. Ya nyanyi, drama, musik. Kalau dapat uang disumbangkan untuk badan pendidikan,” lagi-lagi aktor terbaik FFI 1975 dan 1983 ini bernostalgia.
Kenangan-kenangan macam ini bisa jadi hanya prioritas nomor sekian bagi Slamet. Pasalnya, faktor yang sangat dikedepankan tetap saja ceritanya. ”Setiap cerita yang mengungkapkan tentang harga diri manusia, saya selalu jatuh cinta,” sergahnya dengan lugas.
”Manusia sekarang ini tak punya harga diri. Kalau ada cerita tentang manusia yang memiliki harga diri, itu menyenangkan,” demikian seloroh sutradara terbaik FFI 1985 dan 1987 ini.
Categories Cast, Film, Slamet Rahardjo
Riri Riza Selesai Syuting Film Laskar Pelangi

Ada yang berbeda dari sutradara muda Riri Riza. Kulitwajah dan lengan pria berambut keriting itu tampak lebih hitam saat ditemui diPisa Menteng, kemarin.Rupanya, itu salah satu oleh-oleh dari Belitong, lokasi syuting film Laskar Pelangi. "Baru selesai bungkus syuting Sabtu kemarin,setelah 36 hari syuting.Saya di sanakurang lebih 45 hari, termasuk persiapan dan prasyuting," ujarnya.
Pada hari-hari pertama syuting,cuaca sempat kurang bersahabat. Turun hujan selama 12 hari. Padahal, menurutRiri, selama sebelum syutingbahkan sejak survei tempat pada bulan-bulan sebelumnya selalu cerah.
"Harapan kami memang selalu cerah. Tapi, untunglah syuting lancar, masih bisa sesuaijadwal," ungkap sutradara 3 Hari Untuk Selamanya tersebut.
Riri merasa puas saat syutingberlangsung. Menurut dia, 12 anak asli Belitong yang menjadi geng Laskar Pelangi tidakmengecewakan. Anak dengan usia rata-rata 9 sampai 12 tahun itu adalah hasilaudisi lokal tim Miles Filmbersama dirinya. "Saya kerja sama dengan 12 anak asal sana yang sangat berbakat," puji priayang juga berkacamata tersebut.
Tantangan Riri mengerjakan LaskarPelangi adalahkembali menghadirkan nuansa Belitong seperti pada 1970 atau 1980-an, sesuaidengan isi novelnya. "Sekarang, tahu sendiri yang namanya komersiolismeitu masuk ke mana-mana dan kami terpaksa, misalnya, menutup banyak sekalispanduk, iklan rokok, dan segala macam.
Semuanya harus kami siasati," terangnya yang memang pengalaman dalam halitu ketika menciptakan atmosfer tahun 1960-an lewat film Gie. (ge)
http://cetak.fajar.co.id
Cut Mini Lepas Film Demi 'Laskar Pelangi'

Novel 'Laskar Pelangi' karya Andrea Hirata kini digarap dalam layar lebar dengan judul yang sama. Cut Mini yangkebagian peran, siap melepas dunia film demi total di 'Laskar Pelangi'.
Dalam film tersebut, Cut Mini kebagian peran sebagai Bu Muslimah (Bu Mus). Seorang guruyang mengajar di sekolah rakyat jelata di kawasan Belitong, SumateraSelatan. Tak banyak murid yang diajar Bu Mus, hanya 10 orang saja namun mereka punya kelebihan yang luar biasa.
"10 anak yang main ituasli dari Belitong. Saya banyak belajar di sana, anaknya lugu-lugu dankayaknya saya mulai sedikit jatuh cinta sama Belitong. Daerahnya keringtapi ternyata sangat indah dan tenang," ujar Cut Mini ditemui detikhot di MP Book, Puri Mutiara, Cipete, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Demiperannya ini bintang film 'Arisan' itu harus memperdalam kemampuannyaberbahasa Melayu. Ia pun sampai meminta guru khusus untuk mempelajaribahasa Belitong.
"Habis ini nggak main film pun nggak apa-apadeh. Saya ingin total di sini. Soalnya ini benar-benar saya impikanbanget. Baru beli novelnya aja udah seperti itu gimana mainnya nanti,"jelas Cut Mini.
Dalam film ini Cut Mini akan beradu akting dengan MathiasMuchus, Slamet Rahardjo, Tora Sudiro, Lukman Sardi juga Rieke DiahPitaloka. Film ini akan digarap sutradara Riri Riza.
Detikhot
Categories Film
Laskar Pelangi The Movie
Pascaproses hunting dan casting di Belitong, berhasil dipilih 12 orangpelajar Belitong yang akan memerankan karakter Ikal, Lintang, Mahar,Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan ALing.
Tak ketinggalan ditampilkan sederetan aktor dan aktris beken. Takkurang 12 nama aktor profesional dipasang di dalamnya, mulai dari CutMini, Ikranagara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Slamet Raharjo,Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Robbie Tumewu, JajangC. Noer, hingga Teuku Rifnu Wikana.
Laskar Pelangi rencananya akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia saat liburan Lebaran 2008 ini.
from www.21cineplex.com<.span>
Categories Film
Andrea Hirata: Asking All The Right Questions, From The Start To The End
Initially, Andrea Hirata was trying only to reconcile himself with his bitter past when he decided to write about the earliest fragments of his life.
One thing in his mind was to share his manuscripts with childhood friends who had been in the same boat.
Living with a lack of almost everything is traumatic, especially for children, he said recently.
"It's a real struggle to go back in time to growing up in a poor neighborhood (in Belitung), while next to our place was a giant state mining company that had all the luxuries in the world to offer its staff and their families," said Andrea who was born on Oct. 24.
He is very strict about not revealing the year in which he was born, not wanting readers of his semi-autobiographical novel to confuse fact with fiction.
Never mind though, the way in which he tells his story is so frank that, without knowing exactly when it took place, it's not hard to guess.
An economics graduate of the University of Indonesia, Andrea received a scholarship from the European Union, which allowed him to take his master's degree at the Universite de Paris, Sorbonne, and at Sheffield Hallam University in the UK.
"(But) my childhood period lingers within me. My memories of that period of my life are the fondest. I learned then about sincerity, friendship and the many virtues that perhaps today's children cannot learn from their environments the way I did."
Andrea seemed to find his panacea when he decided to write. He could not stop. His debut novel Laskar Pelangi (Rainbow Warriors) was completed in less than six months.
The alive and fluid narrative of the novel, complemented with the vivid details of the old-time setting, as well as the right angle to put the story in a contemporary context, are the sterling outcome of Andrea's struggle to overcome his past bitterness.
"A friend in Bandung read the manuscript and urged me to send it to a publisher," said Andrea who now resides in Bandung and works at the state telecommunications company.
In his preface to The Portrait of a Lady, literary giant Henry James once said that perhaps a better way to approach the question of defining the greatness of great literature would be to ask questions about personal experience and the use made of it.
James said all art is expression, and the thing expressed is personal experience, either external or internal; the congruence between the experience and the expression is also an issue.
"There is, I think, no more nutritive or suggestive truth in this connection than that of the perfect dependence of the *moral' sense of a work of art on the amount of felt life concerned in producing it."
"The question comes back thus, obviously, to the kind and degree of the artist's prime sensibility.
Andrea's case may fit this description.
His riveting novel (or memoir to be precise) has breathed a new air into the Indonesian literary world, which, in recent years, has been dominated by religious hardcore or pop culture-related works as well as teen-lit.
The popularity of the book is evident as millions of copies of Laskar Pelangi have been sold at home. The book is also sought after in neighboring Malaysia. Yogyakarta-based publishing house Bentang said police had recently confiscated a truckload of pirated copies of Laskar Pelangi.
The book is the first in the Laskar Pelangi tetralogy. The three other volumes are Sang Pemimpi (The Dreamer), Edensor and Maryamah Karpov. Edensor was nominated for the country's prestigious Khatulistiwa Literary Award last year.
Only the hit novel Ayat-Ayat Cinta (Verses of Love) by Habiburahman Er Razy outsells Andrea's books.
It is hard to believe that he only recently developed a reading habit.
In fact, in his own words, Andrea said,"I begin to read fiction only after writing Laskar Pelangi."
"I think what matters most in literary work is the context, not the text," he said.
Now that his best-selling novel is about to be adapted for the big screen, Andrea said he was very fortunate because the wide-screen adaptation was being handled by the country's best filmmakers: Riri Riza and Mira Lesmana.
The Jakarta Post , Jakarta
Categories Andrea Hirata, Film
Laskar Pelangi Difilmkan
Setelah merampungkan tahap persiapan, film Laskar Pelangi, dari novel laris karya Andrea Hirata, memulai syuting perdana di Belitung pada 25 Mei 2008.
Dari novel yang bercerita kisah anak bangsa yang menggambarkan perjuangan guru dan 10 siswa di Belitung untuk sebuah pendidikan itu bakal digarap oleh sutradara Riri Riza dan diproduseri Mira Lesmana.
Mira menuturkan, keputusan untuk mengangkat kisah ini ke layar lebar, bermula dari rasa kagum dua sineas muda tersebut terhadap karya Andrea yang diterbitkan kali pertama pada tahun 2004.
Sementara bagi Andrea, bukanlah hal yang mudah untuk mengiyakan sodoran rencana dari Mira dan Riri tersebut. Adaptasi dari novel ke sebuah skenario film, yang lantas dituangkan ke dalam medium film, belum tentu dapat memuaskan para pendahulu, alias para pembaca yang telah gandrung dengan versi bukunya.
Namun, kata Andrea, kenapa tidak membuat sebuah karya yang jelas berbeda dengan bukunya. "Kita musti jelaskan spektrum, dimensi, apresiasi, dan estetika, antara buku dan film itu sama sekali berbeda. What`s the point making a movie, kalau dia sama persis dengan bukunya," ujar Andrea.
"Novelis, musti open minded dan terbuka dengan kreativitas dan enerji baru."
"Dari awal saya terdorong, mudah-mudahan filmnya nggak sama," tambah Andrea.
Mira pun berujar, "Andrea sendiri menyatakan, kalau filmnya sama dengan novelnya, mendingan nggak usah bikin film aja. mendingan orang-orang baca aja bukunya. Dia justru mengharapkan ada sesuatu yang bisa kita tambahkan di dalam film ini."
"Ini medium yang berbeda. Kalau kemudian kami ingin mengangkat Laskar Pelangi ke layar lebar, saya ingin memastikan, kita pakai segala kemungkinan yang bisa untuk kita kembangkan dari novelnya," kata Mira.
"Riri mempunya visinya sendiri. Otomatis, kalau novelnya karya Andrea Hirata, filmnya akan menjadi karya Riri."
Munculnya perbedaan antara versi novel dan film, kata Mira, bakal terlihat jelas nantinya dari beberapa tokoh baru yang dimunculkan, yang sebelumnya tidak pernah ada dalam versi novel. "Bahwa dalam adaptasi dari novel Andrea ke skenario ini, ada beberapa tokoh yang mungkin memang tidak ada di buku. Tetapi dari hasil diskusi kami dengan Andrea dan juga Bu Muslimah (salah seorang tokoh dalam Laskar Pelangi), ada beberapa tokoh yang kemudian kita angkat di dalam ceritanya (versi film)," ungkap suami aktor Mathias Muchus ini.
"Ada 63 tokoh dalam cerita film ini, selebihnya kita akan didukung pemain-pemain, anak-anak dan dewasa, dari belitung," tambah Mira.
Pasca proses pencarian para pemeran film ini, terpilih 12 pelajar asal Belitong yang akanmemerankan karakter Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan A Ling.
Film produksi Miles Films yang direncanakan bakal diputar di bioskop-bioskop Tanah Air pada September 2008 ini, juga memasang sejumlah pemain film profesional seperti Cut Mini, Ikranegara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Slamet Rahardjo, Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Dyah Pitaloka, Robby Tumewu, Jajang C Noer, dan Teuku Rifnu Wikana.
Gatra
Categories Film
Film Laskar Pelangi Akan Tayang September

Setelah menanti cukup lama, akhirnya para penggemar novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata akan dapat melihat versi layar lebarnya di bioskop pada September mendatang. Sutradaranya, Riri Riza dan Miles Production memastikannya dihadapan wartawan, Senin (19/05).
"Saat ini penulisan skenario sudah mencapai draft ke-17. Kita masih terus memperbaiki, sampai merasa puas," kata produsernya, Mira Lesmana, di acara Press Briefing dan syukuran pra-syuting film Laskar Pelangi.
Bahkan, ia beserta Riri Riza, Salman Aristo (penulis skenario), dan Andrea Hirata telah enam kali bolak-balik Jakarta-Belitong sejak November lalu.
"Tadinya kita berpikir, apa iya kita harus ke Belitong atau cari tempat daerah lain yang menggambarkan Belitong. Tapi ternyata di sana kita mendapat semua," jelas istri Mathias Muchus ini.
"Daerahnya juga cukup accessible, dapat ditempuh dengan pesawat selama 50 menit dari Jakarta. Menuju Gantong (tempat syuting Laskar Pelangi, red) kita jalan darat lagi selama 1,5 jam dari ibukota," lanjutnya.
Proses survei lokasi juga berbarengan dengan pencarian pemeran 10 anggota Laskar Pelangi yang kesemuanya berasal dari Belitong, termasuk dua tokoh pelengkap lainnya, yaitu A Ling dan Flo. "Kita sudah mengkasting 1300 anak sejak 1,5 bulan yang lalu," tambah Riri.
Kedua belas anak tersebut kini tengah mendapatkan berbagai latihan, mulai dari akting, menyanyi, serta melewatkan waktu bersama. "Bahkan mereka sudah saling panggil dengan nama-nama tokoh di buku Laskar Pelangi, tidak dengan nama aslinya lagi," jelas sang sutradara.
Riri juga mengaku tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam mengarahkan mereka, meski bukan dari selebriti atau warga kelas menengah. "Mereka datang dari kalangan biasa, anak-anak kampung yang setelah film ini pun akan kembali ke kampungnya."
Sebaliknya, tukas Riri, yang sulit bukan mengarahkan tapi menemukan mereka. "Menemukan sorot mata cerdas di mata Lintang, menemukan bakat seni dalam tokoh Mahar, bahkan mencari tokoh Harun (yang cacat mental, red), kita lakukan kasting di sekolah luar biasa."
Tapi bukan berarti film ini tak ada bintang-bintang papan atasnya, sebab sejumlah nama seperti Slamet Rahardjo, Ikranegara, Jajang C. Noer, Cut Mini, Rieke Dyah Pitaloka, Mathias Muchus, Alex Komang, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Robie Tumewu, serta Teuku Rifnu Wikana akan ikut ambil bagian.
Proses syuting rencananya berlangsung selama 40 hari di Belitong, yaitu mulai 25 Mei hingga Juli mendatang. Dan sehari sebelum syuting (24 Mei), Miles akan kembali mengadakan selamatan di pulau penghasil timah itu.
Andrea Hirata yang ikut hadir tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, "Luar biasa, amazing, beyond my exceptation. Orang-orang keriting memang luar biasa," candanya.
Ia sendiri mengaku telah membaca draft skenario Laskar Pelangi. Tapi bertolak belakang dari keinginan para penggemarnya, Andrea malah menginginkan Laskar Pelangi versi film berbeda dengan novelnya.
Categories Film
Search
Categories
- A Kiong (2)
- Andrea Hirata (8)
- Behind The Scenes (1)
- Belitung Tour (3)
- Berita Media (14)
- Cast (9)
- Community (1)
- Crew (2)
- Cut Mini (3)
- DVD (1)
- Edensor (1)
- Film (10)
- Film Maker (3)
- Full Movie (1)
- Garasi (2)
- Gita Gutawa (2)
- Gugun And The Blues Bug (2)
- Ikal (2)
- Ikranegara (1)
- Ipang (2)
- Kick Andy (1)
- Kucai (2)
- Lintang (1)
- Lyric (8)
- Mahar (4)
- Mathias Muchus (1)
- Meng Float (2)
- Mira Lesmana (2)
- Movie (1)
- Netral (1)
- Nidji (10)
- Novel (1)
- Podcast (1)
- Poster (1)
- Press Release (1)
- Review (4)
- Riri Riza (1)
- Sahara (2)
- Sherina (3)
- Sinopsis (2)
- Slamet Rahardjo (2)
- Soundtrack (10)
- Still Photos (6)
- Syahdan (2)
- Tokoh (1)
- Tora Sudiro (2)
- Trailer (1)
- Trapani (2)
- TV (1)
- Veris (2)
- Video (6)
- Wisata Belitung (3)
-
Recent Posts
Laskar Pelangi The Comment
The Songs Inspired By Laskar Pelangi
On Flickr
